TEAMWORK 212
EDISI "SENTIMEN ARAB TERHADAP REPUBLIK INDONESIA "
![]() |
| Created By : Ilyas, M.M.Pd |
Ada sebagian kalangan umat Islam yang melihat bahwa kunjungan Raja Salman ke Indonesia saat ini sebagai upaya untuk ‘mempermalukan’ pemerintahan Jokowi yang dianggap takluk di bawah dikte Cina (yang ‘komunis’), termasuk yang dilakukan oleh kalangan pengusaha Cina beserta segenap kaki tangannya di Indonesia.
Indonesia di bawah pimpinan Jokowi dianggap sepenuhnya berada dalam kontrol Cina baik dalam bidang ekonomi, budaya maupun politik. Indonesia digambarkan seolah sudah kehilangan kedaulatannya; Indonesia dijajah oleh Cina.
Mereka percaya benar bahwa Indonesia saat ini secara perlahan dan pasti berada dalam cengkeraman negara naga itu. Sejumlah ‘bukti’ pun dibentangkan: sejak dari banyaknya warga Cina yang terlibat dalam jaringan narkoba, membanjirnya serbuan tenaga kerja ilegal Cina di Tanah Air, impor pacul dari Cina, insiden pengibaran bendera Cina di Maluku, terbongkarnya narkoba dalam tiang pancang proyek reklamasi teluk Jakarta yang diimpor dari Cina, dan tentu saja tuduhan ‘kebal hukum’ terhadap Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama.
Kunjungan Raja Salman juga digadang-gadang sebagai bentuk ‘keberpihakan’ Arab Saudi---sebagai representasi dunia Islam---atas nasib umat Islam yang ‘tertindas’ di bawah Jokowi: umatnya direndahkan, kitab sucinya dilecehkan, ulamanya dihinakan dan dikriminalisasi serta membiarkan penista Islam tidak tersentuh hukum. Besarnya nilai investasi (bahkan lebih besar dari investasi Cina) maupun banyaknya kontrak kerjasama yang dicapai dalam kunjungan Sang Raja juga adalah bukti nyata keberpihakan tersebut.
Singkatnya kunjungan itu tidak lain untuk mengangkat kembali harga diri umat Islam yang selama ini dizolimi. Bahkan beberapa kelompok Islam yang rajin memainkan sentimen penindasan selama ini sampai “baperan” berharap diundang bertemu raja.
Kunjungan Raja Salman ini cukup fenomenal dilihat dari jumlah rombongan yang dibawanya (1500 orang termasuk diantaranya 10 menteri dan 25 pangeran), durasi kunjungan (9 hari), nilai investasi (Rp 134 trilyun), nota kesepahaman (11 MoU mencakup kerjasama bidang ekonomi dan perdagangan, pendidikan, kebudayaan serta pariwisata) maupun properti serta jumlah pesawat yang digunakannya. Kunjungan itu sangat bersejarah karena baru terjadi setelah lebih dari 40 tahun sejak kunjungan pertama. Yang fenomenal, setelah menyelesaikan kunjungan kenegaraannya di Jakarta (termasuk mengunjungi Mesjid Istiqlal dan berpidato di Gedung DPR/MPR), rombongan Raja Salman menghabiskan waktu enam hari liburan di Pulau Bali.
![]() |
| Raja Salman |
Dengan segenap gegap gempita kunjungan itulah sehingga sebagian orang memaknainya sebagai upaya untuk “menampar” arogansi pemerintahan Jokowi. Tapi benarkah? Tidak juga. Perkara kunjungan Sang Raja yang spektakuler itu bukan hanya di Indonesia.
Ketika mengunjungi Turki tahun lalu kemeriahan properti yang mengiringi perjalanan Raja Salman hampir sama, salah satunya menyewa hingga 220 kamar hotel di sana, begitu pula kunjungannya ke negara-negara lain. Begitu pula dibandingkan negara lain nilai investasi Arab Saudi di Indonesia juga relatif kecil; berada di urutan 36. Lalu kenapa kedatangan Raja Salman kali ini terasa beda? Paling tidak ada dua hal menurut saya. Pertama, secara keagamaan betapapun Arab Saudi adalah pusat gravitasi spiritual umat Islam dimana Ka’bah sebagai kiblat salat umat Islam berada di Mekkah. Begitu pula dengan keberadaan berbagai situs sejarah dan rumah ibadah (seperti Mesjidil Haram dan Mesjid Nabawi) yang menjadi tujuan kunjungan spiritual dan ibadah umat Islam di seluruh dunia. Di sini posisi Kerajaan Arab Saudi sebagai penjaga otoritas keagamaan (khadimul haraiman) terkemuka memberinya sejumlah keistimewaan terutama secara keagamaan, ekonomi maupun politik.
Secara ekonomi jutaan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji dan umrah tiap tahun jelas memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap roda ekonomi Arab Saudi. Sedangkan secara politik keistimewaan di atas menyebabkan Kerajaan Arab Saudi memiliki daya tawar tinggi terhadap negara-negara muslim lainnya. Di sini hampir semua negara muslim kiranya berkepentingan terhadap Arab Saudi terutama dalam urusan kouta jamaah haji, di samping untuk memburu investasi dari negara kaya minyak ini. Kedua, sulit dibantah bahwa upaya untuk membenturkan kunjungan Raja Salman dengan dominasi Cina di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontestasi Pilkada DKI yang sangat kental dengan aroma SARA, terutama sejak munculnya kasus Ahok dengan segenap derivasinya: sejak dari wacana ‘pengkafiran’, ‘penistaan’, ‘komunisme’. Aroma SARA yang menyengat itu sampai sulit dipahami secara waras seperti berujung penolakan salat jenazah terhadap pendukung salah satu Paslon.
![]() |
| Perjamuan Raja Salman |
Demikian juga sejumlah majelis taklim dan mesjid di Jakarta berubah seperti kantor partai politik karena menjadi ajang untuk mendukung salah satu Paslon dan menolak bahkan menghina Paslon lainnya. Ceramah-ceramah agama dan khutbah jumat berisi cemoohan dan penghinaan terhadap mereka yang memiliki afiliasi dan pilihan politik yang berbeda. Begitu pula beberapa grup WA dipenuhi propaganda kebencian dan penghasutan, termasuk grup WA asosiasi profesi dosen. Malah ada beberapa teman dosen yang isi postingannya di FB selalu berisi sumpah serapah serta memaki-maki pejabat negara: Presiden Jokowi tidak becuslah, Kapolri berotak Kamra-lah dan seterusnya. Saya prihatin dengan kaum intelektual semacam ini karena sudah kehilangan kejernihan berpikir, sikap objektif serta independensinya sebagai kaum terpelajar. Saya heran, jika orang-orang semacam ini ikut dalam pemilihan ketua RT kira-kira ada yang mau memilihnya ya? Maka ketika seorang kawan saya mengklaim bahwa kunjungan Raja Salman itu dalam rangka membangkitkan rasa percaya diri umat Islam di mata Barat (liberal) maupun Cina (komunis), saya justru melihat sebaliknya. Jangan-jangan kemewahan yang menyertai (setiap) kunjungan Sang Raja malah berlawanan dengan pesan-pesan moral ajaran Islam yang memerintahkan kesederhanaan dan menjauhi pemborosan.
Saya katakan padanya bahwa jangankan dalam urusan dunia, dalam hal ibadah saja Islam melarang umatnya bersikap boros. Dalam buku-buku fikih misalnya dijelaskan bahwa jika berwudlu di tengah samudera sekalipun kita hanya dianjurkan membasuh bagian tubuh maksimal tiga kali! Saya juga katakan, Cina yang komunis itu malah mengadopsi nilai-nilai Islam tentang efisiensi. Misalnya pejabat Cina dilarang melakukan kunjungan keluar negeri dalam jumlah banyak; itu pun hanya kunjungan yang sangat perlu. Untuk menyampaikan dan menyebarluaskan hasil kunjungan mereka diharuskan berbagi kepada pejabat lainnya, toh hasilnya sama saja.
Pemerintah Cina juga melarang pejabat negara menggelar pesta-pesta pribadi yang mewah, misalnya dalam pernikahan anaknya untuk mencegah gratifikasi. Lebih dari itu, saya katakan, daripada pejabat menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak produktif alangkah baiknya jika mereka menggunakan uang untuk melakukan proyek-proyek strategis seperti di bidang pendidikan dan riset.
Bayangkan jika ada pilot proyek pendirian universitas-universitas Islam kelas dunia maka impian kejayaan peradaban Islam itu akan lebih nyata sehingga generasi muda Islam tidak lagi ke Eropa atau AS menuntut ilmu terutama untuk disiplin natural sciencies. Demikian pula halnya dengan deretan universitas kelas dunia. Faktanya hingga saat ini universitas kelas dunia itu (world class university) itu masih dipegang seperti Universitas Harvard (AS), Universitas Oxford (Inggris), atau di Asia ada NUS (Singapura). Meski sejak 1970-an, atas rekomendasi OKI, telah dirintis universitas Islam internasional di Malaysia dan Pakistan namun keduanya hanya terfokus pada pengembangan “social sciences” dengan segala keterbatasannya.
Dengan kondisi tersebut maka tidak mengherankan jika kontribusi sarjana muslim dalam kancah keilmuan dan kemanusiaan masih minim. Peraih hadiah Nobel misalnya, setahu saya baru dua sarjana muslim yang berhasil meraihnya yakni Abduh Salam (Pakistan) dalam bidang Fisika pada 1979 dan Muhammad Yunus (Bangladesh) di bidang ekonomi pada 2006 yang terkenal dengan Greeman Bank-nya. Sebaliknya para pengusaha kaya di negara-negara minyak itu lebih tertarik menanamkan uang mereka pada klub-klub sepak bola di Eropa ketimbang berinvestasi pada pengembangan pendidik didunia islam,ironis bukan. (Teamwork212)"
"SENTIMEN ARAB TERHADAP REPUBLIK INDONESIA" | Ilyas, M.M.Pd "(Dosen STKIP YAPIS Dompu)"
4/
5
Oleh
Fuad Mansyur




No Comment